Seminar Tarjamah, Langkah UKMU Nafilah Tingkatkan Kemampuan Menerjemah



Peserta seminar tengah memerhatikan pemaparan materi oleh salah satu pemateri dalam acara seminar dan pelatihan tarjamah oleh UKMU Nafilah di Aula Gedung Q Kampus 2 UIN Walisongo Semarang, Sabtu, (8/04/2017). doc. Nafilah.

Nafilah – UKMU Nafilah UIN Walisongo Semarang mengadakan seminar dan pelatihan tarjamah bertajuk “Pentingnya Tarjamah dalam Penyebaran Agama dan Ilmu” . Acara tersebut diadakan  di Aula Gedung Q Kampus 2 UIN Walisongo. Sabtu, (8/04/17).

Acara seminar ini dimulai sekitar pukul 08.30-12.50 WIB, yang dihadiri oleh anggota dan pengurus Nafilah, tamu undangan serta beberapa mahasiswa  non-Nafilah. Seminar yang merupakan salah satu program kerja qism shahafah wa tarjamah ini mengundang dua pemateri, yaitu Dr. H. Ahmad Ismail, MA. M. Hum (Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Arab) dan Ahmad Maghfurin, MA. M.Ag (dosen PBA).

Seminar diawali dengan pembukaan. Dilanjutkan acara kedua pembacaan ayat suci Al-Quran oleh M. Yoga Tamyis kemudian menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Nafilah oleh Paduan Suara Nafilah dan diikuti serentak oleh peserta seminar. Acara selanjutnya yaitu sambutan-sambutan. Sambutan pertama dari ketua panitia, M. Ghufron Maulana dan sambutan kedua dari Rais ‘Amm, M. Rosyid Ridho.

Nafilah sebagai UKMU kebahasaan, khususnya bahasa Arab sangat konsen dalam meningkatkan kemampuan bahasa anggotanya, salah satunya lewat seminar dan pelatihan tarjamah. Seminar ini bertujuan untuk membumikan bahasa Arab di UIN Walisongo, sekaligus memberikan wawasan baru mengenai dunia penerjemahan bagi anggota Nafilah pada khususnya, dan mahasiswa UIN Walisonngo pada umumnya.

“Saya berharap dengan adanya seminar dan pelatihan tarjamah ini, mahasiswa UIN Walisongo khususnya anggota Nafilah dapat bertambah wawasannya mengenai penerjemahan suatu karya,” tutur Rosyid Ridho saat dihubungi via Whatsapp.

Materi pertama disampaikan oleh Dr. H. Ahmad Ismail, MA. M. Hum. Ia memaparkan materi mengenai problem dalam penerjemahan, yaitu yang pertama, ketidakjujuran si penerjemah. Penerjemah seharusnya memiliki sifat amanah, dalam hal ini adalah amanah ilmiah yaitu amanah pada teori ilmiah pada tata bahasa. Penerjemah memiliki fungsi kerasulan, sehingga ia harus menyampaikan hasil penerjemahannya dengan sebaik-baiknya. Yang kedua, intervensi teologis, yaitu pemahaman agama si penerjemah seringkali mempengaruhi hasil terjemahan.

“Kegagalan dalam penerjemahan adalah ketidakpahaman. Maka dari itu, penerjemah harus benar-benar amanah secara ilmiah, jangan mencampurkan hal-hal yang tidak perlu dalam terjemahan,” tukasnya saat menyampaikan materi.

Di sela-sela pergantian pemateri, sambil menunggu kehadiran pemateri kedua, yaitu Ahmad Maghfurin, MA. M.Ag, diisi dengan pembacaan puisi bahasa Arab oleh M. Ghufron Maulana tentang persahabatan yang terpisah, tepuk riuh peserta seminar mengakhiri lantunan indah puisi tersebut.

Dilanjutkan materi kedua oleh Ahmad Ismail, ia mendefinisikan tarjamah bukan sebagai pengalihan bahasa maupun alih gagasan, melainkan pemberian atau penjelasan makna dari suatu teks dalam bahasa tertentu ke bahasa lain dengan cara yang dikehendaki dari penulis aslinya. Oleh karena itu, seorang penerjemah harus berusaha bagaimana agar ia dapat menyampaikan isi dari teks yang diterjemahkan sesuai dengan apa yang penulis asli inginkan.

Dosen PBA ini juga menjelaskan bahwa yang sesungguhnya layak menerjemahkan adalah harus menguasai paling tidak dua bahasa, yaitu bahasa yang akan diterjemahkan dan bahasa yang dijadikan penerjemah. Penerjemah harus ahli dalam bidang yang diterjemahkan. Dengan begitu hasil dari terjemahan tersebut nantinya akan dapat mudah dipahami.

Dalam pemaparannya ia berbagi cara bagaimana menerjemahkan yang baik. “Pertama, memastikan teks yang akan diterjemah. Kedua, membaca keseluruhan isi buku, ini untuk mengenali karakteristik buku. Ketiga, mulai menerjemahkan. Keempat, mengoreksi hasil awal dengan memandingkannya dengan teks asli. Kelima, simpan dulu hasil terjemahan selama beberapa hari. Hindari langsung mengkoreksi ulang, ini untuk agar sekiranya kita tidak membenarkan kesalahan diri sendiri. Keenam, membaca ulang keseluruhan teks hasil terjemahan tanpa membandingkannya dengan teks asli. Hal ini untuk mengecek keserasihan gaya bahasa.

Dalam kesempatan itu, Ahmad Maghfurin juga menjelaskan bahwa tarjamah bukan semata-mata sebuah ilmu, tapi lebih dari itu, tarjamah merupakan suatu keterampilan dan seni. “Bagi orang yang ingin menjadi penerjemah profesional  penting baginya terus berlatih. Semakin sering berlatih maka keterampilan menerjemahnya akan semakin baik. Karyanya akan mudah dipahami orang lain” tuturnya dengan tenang.

Setelah mendapat pelatihan menerjemah, kemudian diadakan kuis menerjemah kalimat. Peserta tampak cukup antusias. Peserta yang berhasil menjawab mendapatkan kenang-kenangan. Rahma, salah satu peserta yang berhasil menjawab tampak bahagia. “Dari seminar ini saya dapat ilmu yang bermanfaat, dapat meningkatkan kemampuan bahasa Arab dan juga mengerti bagaimana cara menerjemahkan yg baik dan benar. Niatnya sekedar mencoba ikut menjawab kuis, sekalian belajar, dan alhamdulillah dapat hadiah.” Katanya saat diwawancarai.

Seminar ditutup dengan doa yang dipimpin langsung oleh Ahmad Maghfurin.

Komentar