Bisa Karena Usaha

Sumber: google.co
Oleh: Hani Azizah
Mahasiswi Ekonomi Islam 2017, Anggota Kelas Jurnalistik 2018



Hari ini aku bangun pagi–pagi sekali, tak terasa hari yang telah kutunggu tiba juga. Tepatnya tanggal 24 juli adalah hari dimana masaputih biru berganti dengan abu–abu. Ya kini aku telah menginjak masadewasa walau umurku masih diangka 15 tahun. 

“Rais Amm, ayo cepat turun, sarapan,” suara teriakan ibuku sudah mulai terdengar.

Dengan perlahan tapi pasti aku melangkahkan kaki dengan semangat baru. Setelah sarapan aku langsung berpamitan dan bersiap menunggu anglot di persimpamgan jalan. Pukul 06.45 WIB, aku tiba dia sekolah. Tak lama kemudian bel berbunyi.

Semua siswa sangat antusias dengan perlengkapan sekolah yang terlihat kinclong dan pastinya itu barang baru, mereka secara berjejeran memasuki kelas dengan tertib. Jam pelajaran pertama dimulai yaitu pelajaran Bahasa Arab. Aku kaget tak kusangka sekolah yang aku masuki ternyata ada mata pelajaran Bahasa Arab padahal sekolahku termasuk Sekolah Menengah Atas Negeri bukan Madrasah Aliyah.

“Pojok, kamu yang duduk di dekat pintu silahkan maju memperkenalkan diri,” pak guru dengan tangan sigapnya tiba–tiba menunjuku untuk maju ke depan memperkenalkan diri. 

Kurapikan setiap helai baju untukmemastikan semuanya masih rapi seperti sedia kala sambil kulangkahkan kaki ke depan. “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan nama saya Rais Amm Abdullah, saya dari Semarang. Saya alumni SMP 2 Semarang. Sekian dari saya, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.” 

Ketika aku ingin kembali ke tempat duduk, pak guru memberi saran kepadaku, “Nak lain kali dimata pelajaran saya kamu harus setidaknya menggunakan Bahasa Arab dalam setiap pembicaraan, tidak usah secara keseluruhan tapi setidaknya setengah dari yang kamu ucapan.” Aku menganggukan kepala dan kembali ke tempat duduk. Kulihat temanku yang lain sedikit menertawaiku karena kejadian tadi.

Bel pulang berbunyi menandakan kegiatan belajar hari ini telah usai, semua temanku sudah keluar dari kelas dan mereka semua berlari menuju gerbang sekolah menunggu jemputan mereka masing–masing. Sedangkan aku masih tertunduk bingung sambil keluar kelas menuju taman sekolah. Kurenungkan perkataan bapak guru tadi dengan serius. “Bagaimana jadinya aku berbicara Bahasa Arab ketika aku belum pernah mempelajarinya sama sekali?” Kata–kata itu yang terlintas dipikaranku sekarang. Di tengah lamunanku, suara ramai yang ada di pojok taman terdengar sangat kompak dan itu membuat lamunanku menghilang bagai ditelan bumi. Kudekati suara itu dengan sangat hati–hati agar tak ada seorang pun tahu jika aku sedang mengamati mereka. 

Inhad-inhad nafilahtana... iftah iftah majahilnaha... bil lughati wal irfani nilna sakofah ... bil lughati wal irfani nilna sakofah...” 

Sekumpulan siswa di pojok taman itu secara bersama-sama mengucapkan kalimat itu aku sedikit kebingungan, apakah mereka sedang mengaji bersama atau membaca shalawat bersama-sama, aku mencoba menebak kebenarannya.

Tak terasa hampir empat menit aku mendengarkan mereka berbicara, tiba–tiba siswi perempuan yang sepertinya kakak kelas menghampiriku. 

“Assalamualaikum, adek siswa baru yak? Keliatanya agak murung, padahal ini hari pertama masuk sekolah lho?” tanyanya dengan sopan dan santun.

“Waalaikumussalam, kak. Nama saya Rais Amm, biasa dipanggil Rais, saya bingung kak,” jawabku. 

“Bingung kenapa? Jika adek berkenan saya siap memberi masukan atas masalah yang sedang adek pikirkan.” Suara lembut itu menanyaiku kembali.

“Saya bingung kak, tadi jam pertama pelajaran itu saya disuruh maju untuk memperkenalkan diri dalam mata pelajaran Bahasa Arab, karena saya kebetulan tidak pernah mempelajarinya sama sekali akhirnya saya memperkenalkan diri dengan menggunakan Bahasa
Indonesia, dan saya ditegur oleh pak guru agar di lain waktu bisa mengucapkan dengan Bahasa Arab walaupun sedikit.” Kuungkapkan semua masalahku yang membutukan lumayan waktu untuk mengutarakannya. 

Kakak kelas ku tak menjawab solusi dari masalah yang aku bicarakan, justru dia mengajakku untuk bergabung dengan sekumpulan siswa yang ada di pijok taman.

Ketika sudah sampai di tengah–tengah mereka, kakak yang tadi kutemui kalau tak salah namanya Miss Shofa Amaniyah mulai menjelaskan semuanya padaku secara detail dan tak satu pun yang terlewatkan. “Kami semua ini adalah NAFILAH dek, itu seperti kelompok atau perkumpulan Bahasa Arab yang ada di sekolah ini. Kegiatan kami saling berbagi ilmu, pengalaman, masalah dan solusi pokoknya insyaallah kegiatan yang kami lakukan ada manfaatnya deh.” Kak Shofa mengutarakan dengan sangat jelas sehingga pikiranku terbuka. 

“Jadi apakah saya bisa bergabung dengan kalian semua untuk belajar Bahasa Arab? Tanyaku kepada Kak Shofa.

Tak perlu berpikir panjang mereka menerimaku sebagai anggota baru dalam kelompok Bahasa Arab atau yang biasa disebut dengan Nafilah. Aku mulai mengisi formulir anggota baru dengan hati yang tenang.

“Teman–teman, Sabtu besok kita mulai ya kegiatan belajarnya. Waktunya sepulang sekolah dan berkumpul di taman biasa oke?” teriak Kak Shofa dengan suara lantang.

Tak kusangka Kak Shofa adalah ketuadari Nafilah. Tak diragukan lagi pasti dia sudah lihai dalam berbicara Bahasa Arab. Waktu menunjukan pukul 16.30 WIB tak terasa hari sudah sore akhirnya aku bergegas pulang dan menunggu angkot terakhir untuk pulang. Tak lama kemudian angkot pun datang dan aku langsung naik angkot dengan wajah berseri, pikiran terbuka dan jiwa yang penuh dengan semangat. Bahwa sebentar lagi aku akan belajar Bahasa Arab. Aku teriak di dalam angkot karena sangat bahagia.

“AKU PASTI BISA ....” teriakanku mengagetkan pak supir. Beliau menertawakanku dan aku pun ikut tertawa. Akhirnya kita tertawa bersama di dalam angkot, ditemani senja-senja yang mulai bangkit dari tidurnya sepanjang perjalanan kami. Selamat tinggal keputusasaan. Akan kuubah kekuranganku dengan usaha, kerja keras dan hasil yang memuaskan.


Komentar