![]() |
| Sumber: google.co |
Oleh:
Aiyana Safitri
Mahasiswi Jurusan
Pendidikan Bahasa Arab 2017, Anggota Kelas Jurnalistik 2018
Matanya tertutup kacamata, tapi hati dan ilmunya
begitu luas. Perempuan berjilbab ini memiliki kesantunan dan keteguhan yang
kuat akan mimpi-mimpinya. Ia adalah Mawar. Mawar adalah anak pertama dari dua
bersaudara. Ia mempunyai seorang adik yang usianya sangat terpaut jauh
dengannya. Adiknya berusia 3 tahun.
Seusai
menyelesaikan sekolahnya di MAN 3 Cirebon, Mawar berniat untuk melanjutkan
kuliah Al-Azhar Kaio, Mesir. Kecintaannya pada Bahasa Arab bermula saat di pondok
pesantrennya dulu ia sudah mulai mengajar Bahasa Arab. Ia pun bercita-cita menjadi
seorang guru Bahasa Arab. Namun harapannya untuk kuliah di Kairo musnah karena
tidak mendapat restu dari orang tuanya.
Di suatu
Minggu pagi, ibu mengajakku duduk di
teras rumah. Wajah ibu tampak serius. Ibu masih terdiam. Namun sepertinya ada
banyak hal yang ingin ia utarakan. Aku yakin ini soal kelanjutan pendidikanku. Ia
tak mau mematahkan impianku. Tapi aku juga paham, ia tak bisa untuk
kutinggalkan.
Aku memberanikan
diri memulai percakapan di tengah dinginnya pagi yang membeku.
“Bu, Mawar ingin sekolah di Kairo, Bu. Mawar
ingin mengejar cita-cita Mawar untuk kuliah di sana. Mawar ingin mahir
berbahasa Arab. Tolong izinkan Mawar untuk pergi, Bu,” kata Mawar dengan nada
memohon.
“Bukannya
Ibu tidak mengizinkanmu Mawar. Tapi alangkah baiknya kamu kuliah yang dekat
dari rumah saja. Ibu tidak ingin anak perempuan Ibu pergi jauh meninggalkan Ibu,”
jawab ibu Mawar.
“Iya,
Bu,“ jawab Mawar dengan raut wajah sedih dan meninggalkan ibunya yang sedang
duduk di teras rumah.
Setelah
kejadian itu akhirnya Mawar mengubur dalam-dalam impiannya untuk kuliah di
Kairo. Akhirnya Mawar pun mendaftar kuliah di UIN Walisongo, Semarang. Ia
mendaftar melalui jalur SPAN PTKIN (Seleksi Prestasi Akademik Nasional Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri) dengan
niat yang sungguh-sungguh. Selama pendaftaran jalur tersebut ia selalu berdoa kepada
Allah dan selalu meminta ridho kepada kiai-nya agar mendoakannya diterima di
universitas tersebut.
Singkat
cerita akhirnya ia diterima di universitas tersebut dan memberitahu kepada
ibunya melalui telepon.
“Hallo,
assalamualaikum Ibu. Alhamdulillah Mawar diterima di UIN Walisongo Bu,” kata Mawar
dengan suara yang bahagia.
“Waalaikumussalam,
alhamdulillah nak, akhirnya kamu diterima di universitas yang dekat dari rumah,”
suara ibu dengan nada terharu.
Setelah
Mawar diterima di universitas yang dia inginkan, ia mengurus semua persyaratan kuliahnya.
Pertama kalinya ia pergi ke universitas tersebut untuk mengurus administrasi
perkuliahaan. Ia pun diantar oleh saudaranya, karena ayahnya tidak pernah
memperdulikannya. Ayahnya sangat tidak menyukai jika Mawar kuliah, ayahnya lebih
menginginkan Mawar bekerja dan membantu keluarga. Di suatu malam yang pekat,
sepulang ke rumah, Mawar dimarahi ayahnya.
“Ngapain
kamu jauh-jauh ngurusin kuliah di sana. Ngabisin uang aja. Ayah tidak suka Mawar
kuliah, “ bentak ayah dengan suara meninggi.
“Tapi
yah, Mawar ingin kuliah di sana. Mawar ingin mengejar cita-cita Mawar. Mawar
ingin menjadi guru agar Mawar bisa bermanfaat untuk orang lain,” suara Mawar
dengan nada memelas.
“Kamu
tuh tau apa tentang manfaat?? Kalo mau bermanfaat tidak usah kuliah, kamu bantu
keluarga kerja di rumah. Ngapain kuliah kalo ujung-ujungnya ngerepotin
orangtua? Ngapain kuliah kalau ujung-ujungnya kamu bakalan jadi ibu rumah
tangga. Pokoknya Ayah tidak setuju kamu kuliah!!” kata ayah dengan nada yang sangat
tinggi dan semakin marah.
“Pokonya
Mawar tetep pengen kuliah!” Belum sempat Mawar melanjutkan pembicaraannya, ayah
Mawar menampar Mawar tetapi dihalangi oleh ibu Mawar.
“Cukup
yah, cukup! Jangan pukulin Mawar. Kalau mau pukul, pukul Ibu saja, Mawar tidak
salah jika dia ingin kuliah Yah.” Ibu
membela Mawar sambil menangis.
“Kalian
berdua sama saja. Orang kampung aja belagu pengen kuliah. Kalau gabisa biayain
mau gimana? Ayah tidak mau tau pokoknya Mawar tidak boleh kuliah!” kata ayah
sambil berlalu meninggalkan Mawar dan ibunya.
“Baiklah,
kalau memang ayah tidak mau biayain Mawar, ibu dan Mawar akan berjuang sendiri
untuk biaya kuliah Mawar dan untuk masa depan Mawar. Ibu janji, bagaimanapun
keadaan kita, Mawar harus kuliah, Mawar harus jadi anak kebanggan ibu kelak, “
teriak ibu kepada ayah sambil bercucuran air mata.
“Ibu,
maafkan Mawar, karna Mawar ibu jadi berantem sama Bapak,” kata Mawar sambil
memeluk ibunya.
“Enggak
Nak. Bukan salah kamu, semua ini memang salah ayahmu yang dari dulu tidak
pernah perduli dengan kita. Ibu janji, Ibu akan berusaha sebisa mungkin biayain
kuliah Mawar, asal Mawar bisa jadi anak yang pintar ya, Nak,” ucap ibu sambil
memeluk Mawar dan menenangkannya.
Mawar pun
tetap melanjutkan kuliahnya. Ia memilih tinggal dan kuliah sambil mondok di
pondok pesantren yang dekat kampus. Pondok pesantren itu mengajarkan berbagai
ilmu agama dan bahasa asing, sesuai dengan diinginkan ibunya. Setelah Mawar
melewati hari-hari yang barunya di kampus dan pondok, ia mendapatkan banyak
teman dan pengalaman baru.
Walaupun
masih baru tinggal di pondok, Mawar sudah memiliki sahabat. Namanya Alfi. Sahabat
Mawar ini sangat baik dan selalu menolong Mawar.
Suatu
hari Mawar duduk termenung di taman kampus. Alfi menghampirinya.
“Hai Mawar,
kenapa melamun aja? Ada masalah apa? Ayo cerita aja sama aku,” tanya Alfi
penasaran karna melihat raut wajah Mawar yang terlihat sedih.
“Aku gak
apa-apa kok Fi. Aku cuma ga enak badan aja,” jawab Mawar dengan menutupi
kesedihannya.
“Yang
bener Mawar? Nanti kalau ada masalah apapun cerita aja ke aku ya. Jangan sungkan-sungkan
untuk bercerita. Insyaallah jika aku bisa bantu kamu akan aku bantu,”
kata Alfi menghibur Mawar.
“Iya
makasih ya fi,” jawab Mawar tersenyum.
Ia mecoba
menutupi kesedihannya dari sahabatnya. Mawar bersedih karena Pagi tadi sebelum
ia berangkat kuliah, ia mendapatkan kabar tidak baik dari ibunya.
“Hallo,
assalamualaikum Mawar. Gimana kabar kamu nak?” tanya ibu Mawar.
“Waalaikumsalam
bu. Alhamdulillah Mawar baik. Ibu sendiri gimana kabarnya?” tanya Mawar kepada
ibunya.
“Alhamdulillah
ibu sehat, tapi uangnya yang ga sehat Mawar,” suara ibu terdengar lirih.
“Maafin Mawar
bu. Mawar ngrepotin ibu terus, Mawar akan usaha di sini bu. Mawar akan
berjualan makanan ringan, doakan Mawar semoga laris dagangannya,” jawab Mawar
menenangkan ibunya.
“Maafin
ibu ya Mawar. Ibu belum bisa memenuhi keinginan Mawar, sampai Mawar harus kerja
sendiri.”
“Iya gak
apa-apa bu. Mawar ikhlas asalkan itu bisa meringankan beban ibu.”
“Yaudah nak.
Assalamualaikum,” jawab ibu menutup telepon.
“Waalaikumsalam
bu.”
Atas idenya
untuk berjualan, Mawar pun memutar otak dan berfikir bagaimana caranya ia bisa
membagi waktu antara ngaji di pondok, kuliah dan kerja. Untuk memudahkannya
mengatur waktu, ia memutuskan untuk berjualan online shope. Dari situlah
Mawar bisa mendapatkan sedikit rezeki untuk membantu meringankan beban ibunya.
Ia begitu
semangat untuk jualan sehingga ia lupa waktu. Terkadang ia hanya tidur 3 jam,
karena ia tidur dari jam 1 malam dan harus bangun jam 4 pagi. Seusai shalat
Subuh harus mengaji dan dilanjut kuliah. Tetapi itu semua tidak mematahkan
semangatnya. Bagaimanapun ia harus berfikir bagaimana caranya agar bisa
meringankan beban ibunya. Tetapi suatu hari usahanya ditiru orang lain dan
penghasilanpun menjadi berkurang. Ia tetap sabar dan terus berjualan sampai
suatu hari ia benar-benar rugi dan bangkrut.
Setelah
kejadian tersebut ia justru malah ditimpa musibah lebih berat lagi. Ia di
telpon ibunya.
“Hallo Mawar,
maafin ibu, “ suara ibunya menangis.
“Kenapa
bu?” tanya Mawar kebingungan.
“Mawar
kamu harus berhenti kuliah untuk sementara ya Nak. Ibu ga sanggup lagi biayain kuliah
kamu, maafin Ibu,” suara ibu menahan tangis.
“Kenapa
harus berhenti bu? Kenapa? Mawar harus gimana? Mawar ga mau berhenti kuliah,”
tangis Mawar pecah seketika.
“Yaudah
gini aja Nak, Ibu akan berusaha mencari pinjaman untuk membiayai Mawar, tapi
jika nanti tidak dapat, Mawar ambil cuti aja ya nak, bantu ibu dulu untuk cari
uang, Ayahmu benar-benar tidak peduli dengan kita nak,”
“Baiklah
Bu, jika itu keputusan yang terbaik, Mawar terima,” kata Mawar sedikit kecewa.
Akhirnya
Mawar tetap melanjutkan kuliahnya dengan perjuangan ibunya yang begitu gigih
untuk menguliahkan anaknya.

Komentar
Posting Komentar