Bidadari Itu Bernama Ayna

Sumber: google.co



Judul Buku                 : Bidadari Bermata Bening
Penulis                        : Habiburrahman El-Shirazy
Penerbit                     : Republika
Jumlah Halaman        : 337 halaman
ISBN                            : 978-602-082-64-8
Peresensi                 : A. U. Mualifah

Bidadari Bermata Bening merupakan novel karya Habiburrahman El-Shirazy yang berkisah tentang kehidupan seorang santri. Ialah Ayna, Santriwati yang menjadi tokoh sentral dalam novel setebal 337 halaman ini. Lewat jalan hidup Ayna, penulis yang biasa disapa Kang Abik ini seolah ingin berbagi cerita tentang kehidupan di pondok pesantren dan menularkan nilai-nilai luhur seorang santri yang patut diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Isi novel ini mamancarkan dramatisme kehidupan dengan dibumbui romansa cinta yang tentunya tidak lepas dari nilai-nilai religius sebagai ciri khas novel dari Kang Abik. 

Bidadari Bermata Bening mengulas kisah Ayna, seorang santriwati di Pondok Ainul Mardhiyah, asuhan Pak Kiai Sobron Ahsan dan Bu Nyai Fauziyah. Ayna, selain menjadi santriwati ia juga mengabdikan dirinya dengan menjadi khadimah. Ketawadhuan dan rasa hormatnya kepada Pak Kiai beserta keluarganya membuatnya menjadi salah satu khadimah yang diperhitungkan.

Ayna merupakan gadis yang berasal dari sebuah desa kecil di daerah Purwodadi. Ia telah ditinggal pulang ayah, ibu juga kakek dan neneknya. Yang tersisa hanya keluarga pamannya. Namun begitu, hubungan antara keduanya tidak begitu harmonis. Sikap paman dan keluarganya begiu dingin kepada Ayna. Namun, atas pesan ibunya yang meminta setidakmengenakkan apapun perlakuan dari keluarga pamannya kepada dirinya, jangan sampai memutus hubungan kekeluargaan. Karena itu ia jarang pulang, dan memilih tetap di pesantren.


Meskipun tergolong masih sangat muda, di usianya yang baru saja lulus Madrasah Aliyah, Ayna yang cantik jelita hasil perbaduan darah Yaman dari ayahnya dan Jawa dari ibunya menarik hati seorang kiai muda dari Jogjakarta, ia tak lain adalah masih saudara Bu Nyai Fauziyah. Kiai muda itu berkeinginan untuk meminang Ayna. Namun, paman dan bibi-nya tak merestui. Pasalnya, pamannya merasa Ayna yang masih perawan tidak seharusnya menjadi istri kiai duda yang telah memiliki anak, meskipun ia seorang kiai.  Selain karena alasan perbedaan usia yang cukup jauh, ketidaksetujuan paman Ayna atas lamaran kiai muda itu adalah karena dirinya ingin dijodohkan dengan seorang pemuda kaya raya asal Purwodadi. Ada rasa kesal Ayna pada pamannya. Namun apa daya, ia tidak kuasa melawan titah pamannya. 

Sebelum tiba waktu pertunangan Ayna dengan pemuda pilihan pamannya, tiba-tiba, pemuda yang telah memiliki tempat di hatinya sejak di pesantren datang ke rumahnya. Ialah Gus Afif, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Sobron, dan juga merupakan teman seangkatannya sekolah, walaupun sebenarnya Gus Afif dua tahun lebih dewasa dari Ayna. Dengan tanpa basa-basi Gus Afif mengutarakan maksud tujuannya jauh-jauh dari Magelang ke Purwodadi. Ia ingin melamar Ayna. Ya, ternyata cinta Ayna tak bertepuk tangan. Ternyata Gus Afif juga menaruh rasa padanya. Namun, siapalah Ayna, ia merasa tidak pantas untuk perdampingan dengan putra dari kiai yang dia menjadi khadimahnya. Itu juga yang menjadi kegelisan Bu Nyai Fauziyah ketika Gus Afif meminta restu ibundanya. Terlebih juga Ayna dan Gus Afif masih muda dipandangannya jikalau harus menikah.

Ayna menunggu janji Gus Afif yang akan segera membawa keluarganya untuk melamarnya. Namun lama ia menunggu seperti tiada tanda-tanda kedatangan keluarga kiai yang dihormatinya itu. Sedangkan waktu pertunangan dan pernikahan yang telah ditentukan pamannya semakin dekat. Hingga akhirnya, ia benar-benar harus menjalani pernikahan itu. Namun di hari yaang harusnya ia diseleimuti kebahagiaan, ia justru dirundung kesedihan. Pasalnya, pemuda yang kini menjadi suaminya itu merupakan pemuda yang kurang baik akhaknya. Bahkan kekayaan yang dimilikinya merupakan hasil dari usaha yang kotor.

Meskipun ia telah sah menjadi istri Haryo Bagus Karloto alias Yoyok, suaminya, namun sebagaimana dengan syarat yang diajukan Ayna sebelum pernikahan berlangsung, yaitu Ayna tidak akan mau disentuh Yoyok sebelum ia dapat membaca ayat Al-Quran dengan lancar serta hafal juz ‘amma dan surah Yasin. Sebagai seorang santri ia begitu berusaha menjaga kehormatannya.

Kehidupan barunya menjadi seorang istri konglomerat dari Kota Purwodadi tidak lantas membuatnya lupa pada akarnya. Ia tetep menjaga agama dan ibadahnya. Walaupun ia tidak mau disentuh oleh suaminya, namun ia tetep menjalankan tugasnya sebagai seorang istri dengan baik. Ia tetep memperlakukan Yoyok sebagaimana mestinya. Hingga suatu ketika, ia hampir tak habis pikir dengan suami dan mertuanya. Karena perilaku kotornya –korupsi- mulai terendus polisi, dengan seenaknya mertua Ayna membuat rencana licik untuk menyelamatkan diri sendiri. Ia meminta Ayna untuk cerai dengan Yoyok, kemudian ia akan dinikahkan dengan seorang bandot tua Bram Margojaduk. SH, pengacara yang mata keranjang. Hal itu dilakukan semata-mata agar si pengacara mau membantu mertua dan suaminya bisa lolos jerat hukum.

Dan benar, perceraian itu benar terjadi. Ayna bukanlah orang yang bodoh. Ia pun memanfaatkan kesempatan tersebut untuk pergi jauh dari mereka. Setelah perceraian dan sebelum pernikahannya dengan si bandot tua berlangsung, ia telah melarikan diri. Hingga ia pun sampai ke kota Bogor. Di Bogor, ia memulai hidup barunya. Awal-awal kehidupannya di kota baru ia mengalami kesusahan. Ia sebatang kara. Tidak mengenai siapa-siapa dan hidup dengan keterbatasan finansial. Hingga takdir Allah mempertemukannya dengan Hj. Rosidah Nur Wahyuddin, SE., Direktur Utama PT. Tsania Waras Rezekia.

Janda kaya raya itu pun sudah seperti ibunya sendiri. Ia memberi semangat hidup baru bagi Ayna. Ia membukakan jalan bagi kesuksesan Ayna. Ayna diangkat Bu Rosidah menjadi asisten pribadinya. Berkat kerja keras dan dukungan dari Bu Rosidah juga, Ayna memiliki usaha ‘Roti Barokah’. Ia juga mendirikan Bait Ibni Sabil, semacam pesantren untuk anak-anak jalanan.

Kesibukannya dengan hidup barunya tidak melunturkan kasihnya kepada Gus Afif, meskipun itu telah beberapa tahun lamanya ia tak pernah bertemu ataupun kesedar tahu kabarnya. Hingga suatu waktu, ia mendengar kabar Bu Nyainya menderita sakit parah dan ia sangat ingin bertemu dengan Ayna. Ayna pun langsung menyusul Bu Nyai-nya di salah satu rumah sakit di Yogyakarta. Di situ juga, ia pada akhirnya bertemu kembali dengan Gus Afif. Seperti sepatu yang telah lama kehilangan pasangannya, namun kuasa takdir Tuhan menyatukan mereka kembali, karena pada hakikatnya Tuhan telah mentasbihkan mereka berpasangan.

Kisah hidup yang disajikan di novel ini terasa menggelitik dan dapat membawa masuk pembaca ke alur cerita, terlebih bagi kaum remaja santri, khususnya santri putri, karena terasa begitu lekat dan kental di kehidupan nyata. Hal itu semakin didukung dengan pemilihan latar tempat yang tidak asing di telinga pembaca, apalagi jika pembaca tahu dan bertempat di daerah yang disebutkan di novel.

Dari segi desain, gambar cover kurang dapat mempresentasikan isi dari novel. Tema santri dan pesantren dalam novel merupakan tema yang menarik, mungkin akan lebih menarik lagi jika cover sedikit banyak juga ada kaitkan dengan tema tersebut. Namun terlepas dari itu, novel ini layak untuk dibaca karena syarat akan makna dan nilai-nilai yang dapat menjadi pegangan dalam hidup.

Komentar