NAFILAH (Nadi Walisongo Fi Lughoh Al- Arabiyyah) adalah salah satu lembaga Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas (UKMU) yang berdiri tingkat Universitas dalam lingkup Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang.
Nafilah merupakan salah satu UKMU yang berbasis Bahasa dan Sastra Arab, salah satunya terlihat dari Misi Nafilah yakni “Membumikan Bahasa dan Sastra Arab baik dalam maupun luar lingkungan kampus Uin Walisongo Semarang” dan Visi Nafilah yakni “Memperluas Akses Pendidikan Bahasa dan Sastra Arab yang profesional”.
Ketua Shahafah Wa Tarjamah 2019, Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), Icha (21) mengatakan, dalam hal menyikapi problematika bahasa dan sastra arab di lingkungan Uin Walisongo yang masih lambat perkembangannya sehingga UKMU Nafilah berinisiatif untuk mengadakan Seminar Diskusi Sastra Arab (DSA) 2019 yang berada dibawah naungan Program Kerja dari Qism Shahafah Wa Tarjamah 2019 yang telah dilaksanakan pada hari / tanggal: Senin, 22 April 2019 bersama narasumber Al- Ustadz Muhammad Akmaluddin, S. Th.I, M.S.I (Aktivis Literasi Ilmiah) dan Al- Ustadz Musyfiqur Rahman, S. Ag. (Redaktur Sastraarab.Com), Moderator DSA 2019 yakni: Abdul Hamid (Mahasiswa Ahli Debat Arab), dengan tema “Dinamika Sastra Arab dan Progresivitasnya di Indonesia” dan dengan tema tersebut, diharapkan peserta mampu memahami pentingnya berbahasa dan sastra arab.
“Suasana seminar Diskusi Sastra Arab pada kesempatan kali ini tidak terlalu dipandang antusias oleh para mahasiswa/i. Hal tersebut dikarenakan melihat hari seminar yang diambil dalam pelaksanaannya yakni pada Senin yang mana sedang aktif diadakan perkuliahan. Sehingga peminat peserta seminar sangatlah berkurang dari perkiraan panitia DSA 2019,” ujarnya saat ditemui di Auditorium 1 Lantai 2 Kampus 1 UIN Walisongo.
Icha (21) menambahkan, disisi lain pun seminar yang diadakan oleh Nafilah sendiri bertemakan “Seminar Diskusi Sastra Arab” yang notabennya hanya sebagian jurusan yang membutuhkan bahasa arab dalam masa perkuliahan. Diantaranya seperti Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) dan Ilmu Al-Quran dan Tafsir (IAT). Disisi mahasiswa lain, notabennya berjurusan umum yang cenderung tidak terlalu tertarik dengan adanya Seminar tersebut.
Salah Satu Anggota Qism Shahafah Wa Tarjamah 2019, Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir (IAT), Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM), Sapri Aziz menjelaskan, kecenderungan mahasiswa/i terhadap minat dalam ilmu bahasa dan sastra arab masih relatif rendah dan sangat terlihat jelas bagi peserta yang mendaftar hanya berjumlah 36 dari 120 target peserta. Peserta DSA 2019 mayoritas berasal dari jurusan Pendidikan Bahasa Arab, melainkan spekulasi secara umum 80% nya berasal dari Fakultas FITK dan FUHUM adapun selebihnya dari FDK dan lainnya.
“Suasana dalam berjalannya seminar terkesan monoton, terlihat para peserta DSA 2019 terlalu tegang dalam mengikutinya. Hal itu dibuktikan ketika dalam penyampaian materi yang disampaikan oleh narasumber, para peserta hanya bisa duduk terdiam mendengarkan penyampaian tanpa adanya kontak komunikasi, melainkan terlihat jelas pada saat sesi pertanyaanpun dari sekian banyak peserta hanya ada dua penanya saja,” ditemui saat seminar Diskusi Sastra Arab telah usai.
Moderator Seminar Diskusi Sastra Arab 2019, Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM), Mahasiswa Ahli Debat Arab, Abdul Hamid mengungkapkan, materi yang disampaikan narasumber meliputi beberapa aspek seperti teori-teori dalam mempelajari sastra. Langkah-langkah membuat sastra arab seperti puisi, syair bahkan seseorang bisa dikatakan sebagai penyair handal apabila mampu mengubah puisi menjadi 4 hal, diantaranya 1. Al-Madhu (memuji) 2. Al-iidza (menjelek-jelekan) 3. Al-fakhor (Membanggakan kelompoknya) 4. Deskripsi sesuatu dan point selanjutnya yakni mengenai sejarah adanya ilmu syair dan sejarah yang kita kenal dalam ilmu syair yakni sejarah munculnya ilmu syair (Arud).
Hamid (23) menambahkan, dalam satu riwayat disebutkan bahwa salah satu dari guru Ahli Nahwu Imam Syibaweh mempunyai guru bernama Imam Kholil. Imam Kholil adalah gurunya Imam Syibaweh atau penemu Ilmu sastra Arab yakni Ilmu Arud. Suatu ketika diceritakan bahwa pada saat Imam Kholil mempunyai banyak santri dan salah satunya Imam Syibaweh. Ketika Imam Syibaweh sudah belajar bersama Imam Kholil. Di hari selanjutnya, Imam Syibaweh melanjutkan belajarnya ke Ulama lain, kemudian beliau merantau untuk menuntut Ilmu. Dikemudian hari berikutnya, Imam Syibaweh mendirikan Majlis Ilmu (Pondokan). Semakin hari, Imam Syibaweh mempunyai banyak santri dan semakin hari pula Imam Kholil mempunyai santri yang semakin sedikit, melainkan karena banyak yang pindah mengaji kepada Imam Syibaweh. Hal inilah terlihat karena adanya sifat Tawaduan (rendah hati) dan kelembutan dari Imam Kholil yang mana beliau tidak memiliki sifat iri bahkan beliau senang karena muridnya semakin bertambah banyak, hal inilah yang dinamakan ciri Ulama yang sesungguhnya, Selasa (23/4).
“Hingga pada suatu hari Imam Kholil berinisiatif untuk bisa mempelajari Ilmu-ilmu baru yang nantinya bisa bermanfaat bagi santri-santrinya. Pada saat itulah disaat Imam Kolil berjalan melewati pasar ditengah gemercik suara pedagang dan pembeli, beliau mendengar suara-suara dari salah satu perabotan pedagang dan ternyata suara itu membentuk sebuah lantunan yang langsung diserap oleh Imam Kholil. Hal inilah membuktikan lantunan suara dari parabotan pasar tersebut telah menciptakan bunyi-bunyi bait dalam Ilmu Arud,” jelasnya. (Wartawan Harokah Nafilah 2019: ICHA)

Komentar
Posting Komentar