Dokter atau Dukun? Karya: Aslikhatul Ummah Sofi Alif

 Suatu hari Juha menjenguk temannya Ari yang sedang sakit perut di rumah. Dia pun segera mendatangkan dokter untuk Ari. Ketika sang dokter memasuki kamar pasien, dilihatnya terlebih dahulu bagian lidah untuk pengecekan dan langsung mengamati sekeliling kamar termasuk ke bawah lantai. 
"Kamu telah makan banyak kue yang terbuat dari mentega dan janganlah mengulangi untuk kedua kalinya!" Seru dokter. 
Setelah itu, dokter bergegas keluar dari kamarnya. 
"Kesehatan temanmu akan membaik dalam beberapa hari kedepan.” Katanya.
Juha pun terkejut dengan hasil diagnosa sang dokter. Dia segera menyusul sang dokter dan bertanya.
"Bagaimana kau langsung mengetahui hasil diagnosa dengan cepat?" Tanya Juha.
“Ini urusan ringan. Ketika mengetahui bahwa dia sakit di area perut, segera ku mencari tahu sebab sakitnya dengan menemukan remukan kue berserakan di bawah ranjang kasurnya.”  Kata dokter.
Apakah kamu langsung mengetahui temanku yang memakan kue itu?" Tanya Juha.
"Iya, betul sekali." Tegas sang dokter.
Tak disangka ketika dokter beranjak pergi, terbesit dalam hati Juha sembari memegang kepala dengan merasa heran. "Bagaimana hasil diagnosa dokter kepada pasien sangatlah mudah untuk diprediksi?" Juha segera menuju kamar Ari untuk membuktikan apa yang telah dikatakan sang dokter.
Pandangan Juha langsung tertuju ke bawah ranjang kasur dan kenyataanya pun masih ditemukan remukan kue yang berserakan. Dia bergegas menanyakan perihal tersebut kepada Ari sebagai bukti penegasan “Apakah kamu sering makan banyak kue yang membuatmu sakit perut?” 
"Benar, aku telah makan banyak kue dan tak pernah disangka hal itulah yang menyebabkanku sakit perut." Jawab Ari. Dia tersadar akan kebiasaan buruk dalam mengontrol pola makannya dan dia berjanji kepada Juha untuk tidak membuatnya khawatir. 
Sesampainya kembali di rumah, Juha masih terheran akan hal yang dilakukan sang dokter dalam hal mendiagnosis pasien. Tersirat di pikiran Juha yang beranggapan, ternyata profesi dokter sangatlah mudah hanya bergantung pada kecerdasan sang dokter. Hal inilah yang memotivasi Juha menjadi seorang dokter. Dia memulai kesehariannya dengan meluangkan waktu untuk gemar membaca dan mempelajari beberapa buku yang berkaitan akan dunia kedokteran.
Beberapa hari kemudian, Juha pergi kembali ke rumah Ari. Di sana dia sedang melihat Ari sedang duduk dengan raut wajah termenung. Juha mendekati Ari secara perlahan sambil bertanya. 
“Hal yang membuatku sedih karena ayah sedang jatuh sakit.” Jawab Ari dengan suara lirih.
Segeralah Ari memanggilkan dokter untuk memeriksa keadaan ayahnya. Juha tak sengaja langsung berkata kepada Ari "Mengapa perlu mencari dokter, sedangkan diriku ada di sini wahai temanku?" 
“Apa yang kau maksud wahai Juha?” Jawab Ari dengan terkejut.
“Tidakkah kau tahu bahwa ku sudah mengetahui akan dunia kedokteran dan perihal cara mengobati pasien?" Kata Juha.
Ari pun masih tak percaya yang dikatakan temannya.
"Wahai Juha, kami tak inginkan seorang filosof, sebenarnya yang diinginkan hanya seorang dokter." Jawab Ari. 
"Biarkan aku saja yang mencoba mengobati penyakit ayahmu. Ku juga mempunyai metode ampuh untuk mendiagnosis penyakit pasien." Jawab Juha dengan percaya diri.
Juha tetap memaksakan diri ingin masuk ke kamar ayah Ari, namun Ari tetap melarang dan memintanya untuk menghentikan senda gurau. Hal inilah yang membuat Juha bertekad kuat untuk memasuki kamar ayah temannya. Sewaktu ayah Ari tertidur lelap di atas ranjang kasur rumahnya, dia bergegas masuk. Setelah itu langsung dilihatnya ke arah mulut dan dilanjutkan melihat ke bawah lantai ranjangnya. Juha berpikir ingin mengikuti metode mendiagnosis pasien dari sang dokter sebelumnya yang pernah memeriksa Ari. Di bawah ranjang kasur ayah Ari ditemukan beberapa sepatu di dalamnya. 
"Janganlah khawatir, kondisinya akan segera membaik dalam beberapa hari kedepan, melainkan beliau dilarang suka memakan sepatu seperti kebiasaannya yang buruk." Ari pun terkejut perihal jawaban Juha yang tidak masuk akal.
Keesokan harinya, Ari ingin membuktikan apa yang dikatakan temannya tadi malam. Dia segera memeriksa keadaan ayahnya yang masih tertidur pulas di kamar. Disentuhnya kepala sang ayah dan kenyataannya pun masih terkena demam tinggi. Keadaan ayahnya semakin memburuk dan membuat Ari cemas. Dia langsung menghubungi rumah sakit untuk membawa mobil ambulans agar ayahnya segera dibawa ke rumah sakit. 
Sesampainya di sana, dokter yang bekerja di rumah sakit mengatakan bahwasanya sang ayah terjangkit demam berdarah. Penyakit tersebut, diakibatkan oleh nyamuk Aedes Aegypthy dan dianjurkan untuk melakukan rawat inap guna pemeriksaan lebih lanjut. Juha pun kaget mendengar kabar dari Ari yang mengatakan bahwa ayahnya rawat inap di rumah sakit. Juha langsung bergegas menengok ayah Ari dengan raut wajah penuh malu serta meminta maaf kepada Ari bahwa prediksinya tadi malam ternyata salah. Ari pun memberikan maaf kepada Juha yang pernah membantunya dikala sakit.
Sebagai rasa penyesalan Juha kepada Ari, ditemuilah sang dokter yang pernah mendiagnosis pasien hanya melihat dari bawah ranjang kasur. Juha ingin mengetahui bagaimana sang dokter mendiagnosis, sedangkan diriku salah memprediksi penyakit kepada pasien.
Di hari yang sama, Juha mengendarai motor untuk mendatangi rumah sang dokter sesuai alamat yang tertera. Tepat pukul 20.00 WIB, sampailah dia di sebuah rumah kecil berukuran 200 M dengan dipenuhi cat tembok perpaduan hitam dan abu. Suasana tampak depan rumah sang dokter pun terasa sunyi dan menyeramkan. Seketika itu pintu depan rumahnya terbuka lebar. Masuklah Juha dengan beraninya sambil mengucap salam di dalamnya. Di balik tirai rumahnya tampak sang dokter yang sedang duduk mengenakan baju serba hitam. Ternyata sang dokter sedang melakukan ritual sambil mengucap mantra dengan menaburkan percikan air di atas dupa.
Juha merasa kaget dan tak menyangka dokter yang selama ini diidolakan ternyata malah seorang dukun. Tanpa berpikir panjang, Juha segera meninggalkan rumah sang dokter palsu alias dukun. Dia merasa sangat terpukul atas apa yang dilihatnya.
“Awal mula melihat sang dokter pintar dalam mendiagnosis pasien, aku pun tertarik dan ingin menjadi dokter!” Wajah Juha penuh harapan. 
Usaha yang dilakukan Juha untuk menjadi dokter sangatlah sia-sia. Padahal dia ingin belajar banyak dari dokter palsu akan dunia kedokteran sebelum mengetahui yang sebenarnya. Dokter palsu menggunakan kekuatan sihir dengan maksud untuk mendapatkan pengikut agar terjerumus dalam dunia kegelapan. 
Segeralah Juha menceritakan apa yang telah dilihatnya perihal dokter palsu kepada Ari. Setelah mendengar kisah itu, Ari tak mengira dokter yang mengobatinya  sembuh dari penyakit ternyata menggunakan ilmu sihir.
  Ari menggelengkan kepalanya seraya berkata “Astaghfirullahal Adzim!” Atas apa yang telah dilakukan sang dokter palsu.
“Janganlah kau bersedih wahai temanku, ku kan selalu mendukung apapun keputusanmu.” Usap bahu Ari kepada Juha.
Juha merasa tersentuh atas perkataan Ari, dan menjawabnya: “Terima kasih banyak wahai temanku.” Mereka berdua pun saling berpelukan dan berjanji untuk saling mendukung satu sama lain. 
Beberapa hari kemudian, terketuk hati Juha yang ingin membuktikan kepada sang dokter palsu untuk menjadi seorang dokter yang sesungguhnya. Diambilnya Jurusan Kedokteran agar Juha dapat menyesuaikan dalam bidang kesehatan. Tujuan mulia seorang dokter yakni membantu pasien dengan berbagai peralatan kesehatan, bukannya dengan ilmu sihir semata. 
Juha terus bekerja keras memahami ilmu kesehatan melalui teori dan praktiknya. Selang empat tahun berlalu, kesempatan yang ditunggu akhirnya datang juga. Juha mendapatkan gelar sarjananya dan kembali menemui sang dokter palsu ke rumah yang pernah didatanginya.
Tampak jelas dokter palsu yang masih bergelut dengan dunia kegelapan. Juha berjalan ke arah dokter seraya berkata “Akhirnya cita-cita yang ku impikan dapat berbuah manis.”
“Apakah iya?” Jawab sang dokter.
Juha pun menjawab dengan riang: “Alhamdulillah!” Tak kan ada yang mustahil. Apapun yang mustahil akan menjadi nyata. 
Inilah bukti nyata yang menyelinapkan berjuta makna. Oleh karena itu, kita harus terus menggunakan metode DUIT (Doa, Usaha, Ikhtiar dan Tawakal).

 

Komentar