فِي يَوْمٍ مِنَ الأَيَّامِ كَانَ هُنَاكَ شَابٌّ يُدْعَى شَفِيقٌ يَمْشِي إِلَى جَدِّهِ الَّذِي كَانَ عَلَى حَافَةِ نَهْرٍ صَافٍ جِدًّا. فَشَكَى شَفِيقٌ لِجَدِّهِ المُشْكِلَاتِ الَّتِي كَانَتْ تَأْتِي وَتَذْهَبُ.
فَابْتَسَمَ الجَدُّ وَهُوَ يَأْخُذُ حَفْنَتَيْنِ مِنَ الْمِلْحِ كَانَتَا فِي يَدَيْهِ اليُمْنَى وَالْيُسْرَى. وَضَعَ حَفْنَةَ الْمِلْحِ الَّتِي كَانَتْ فِي يَدِهِ اليُمْنَى فِي كُوبٍ مِنْ مَاءِ النَّهْرِ الصَّافِي، ثُمَّ أَعْطَاهُ لِشَفِيقٍ. اندَهَشَ شَفِيقٌ مِنْ تَصَرُّفِ جَدِّهِ وَرَفَضَ قَائِلًا: "لَا، لَا بُدَّ أَنَّ طَعْمَهُ مَالِحٌ جِدًّا". ثُمَّ قَالَ الجَدُّ: "اشْرَبْهُ!". شَرِبَ شَفِيقٌ ثُمَّ بَصَقَهُ عَلَى الْفَوْرِ قَائِلًا: "مَالِح!".
ثُمَّ رَمَى الجَدُّ حَفْنَةَ الْمِلْحِ الَّتِي كَانَتْ فِي يَدِهِ اليُسْرَى فِي النَّهْرِ، ثُمَّ أَخَذَ كُوبًا مِنَ الْمَاءِ مِنَ النَّهْرِ بِنَفْسِ الكُوبِ لِيُعْطِيَهُ لِشَفِيقٍ. قَالَ الجَدُّ: "اشْرَبْهُ، كَيْفَ طَعْمُهُ؟". أَجَابَ شَفِيقٌ: "طَعْمُهُ طَازَجٌ". قَالَ الجَدُّ: "يَا حَفِيدِي، هَـٰذَا مَا يُشْبِهُ قَلْبَكَ. إِذَا كَانَ قَلْبُكَ ضَيِّقًا كَهَـٰذَا الكُوبِ، فَإِنَّ أَقَلَّ مُشْكِلَةٍ سَتُوَاجِهُكَ دَائِمًا صُعُوبَاتٍ كَمَا حَدَثَ عِنْدَمَا ابْتَلَعْتَ المَاءَ المَالِحَ قَبْلَ. وَلَكِنْ إِذَا كَانَ قَلْبُكَ وَاسِعًا، فَمَهْمَا كَانَ حَجْمُ المُشْكِلَةِ الَّتِي تَعْرِضُ طَرِيقَكَ، فَلَنْ تُؤَثِّرَ عَلَيْكَ مَهْمَا كَانَ حَجْمُهَا، إِلَّا إِذَا كُنتَ قَادِرًا عَلَى التَّخْطِيطِ لِلتَّغَلُّبِ عَلَيْهَا. وَهَـٰذَا مَا يُسَمَّىٰ بِـ"سَعَةِ الصَّدْرِ" الَّتِي تَعْنِي السَّعَةَ".
Terjemahan Bahasa Indonesia:
"Insyirah"
Suatu hari terdapat seorang pemuda bernama Syafiq yang
sedang berjalan menghampiri kakeknya yang berada di pinggir sungai yang sangat
jernih. Kemudian Syafiq berkeluh kesah kepada sang kakek terkait masalah yang
datang silih berganti menghampiri dirinya.
Kakek hanya tersenyum sembari mengambil dua genggam
garam yang berada di tangan kanan dan kirinya. Kakek memasukkan segenggam garam
yang berada di tangan kanannya kedalam
segelas air sungai yang jernih, kemudian memberikannya kepada Syafiq.
Syafiq terheran terhadap sikap kakek, dia menolak seraya berkata “Tidak, pasti
rasanya sangat asin”. Lalu kakek berkata “Minumlah!”. Syafiq meminumnya, lalu
seketika dia memuntahkannya seraya berkata “Asin!”.
Kemudian kakek melemparkan segenggam garam yang berada di tangan kirinya ke dalam sungai, setelah itu kakek mengambil segelas air dari sungai tersebut dengan gelas yang sama untuk diberikan kepada Syafiq. Kakek berkata “minumlah, bagaimana rasanya?”. Syafiq menjawab “rasanya segar”. Kakek berkata “Cucuku seperti itulah hatimu. Apabila hatimu sesempit gelas ini, maka masalah sekecil apapun akan selalu menghadirkan kesulitan sebagaimana saat engkau menelan air garam tadi. Namun apabila hatimu luas. Sebesar apapun masalah yang menghampirimu, tidak akan berdampak kepada dirimu, kecuali engkau mampu menyusun rencana untuk mengatasinya. Inilah yang dinamakan Insyirah yang berarti kelapangan”.
كاتبة: ازيمة قرأنية

0 Komentar